Social Icons

Pages

Senin, 28 November 2011

Nasib Prosesor Ekstrim Intel

Muhammad Firman
Platform Core i7 hadir di waktu yang tidak tepat. Meski pengguna dari kalangan enthusiast -mereka yang menginginkan sistem berkinerja tertinggi- butuh sistem seperti itu, tetapi harga yang ditawarkan untuk platform sistem yang bersangkutan membuat pengguna menyingkir. Padahal kenyataanya, sampai saat ini Core i7 merupakan prosesor desktop terhebat yang pernah dibuat oleh Intel.

Masalah utama enggannya pengguna melirik sistem Core i7 adalah minimnya pasokan motherboard berchipset X58 (motherboard yang ditujukan untuk menampung prosesor tersebut) yang dijual seharga di bawah 200 dolar AS. Padahal, harga prosesornya sendiri sudah 1000 dolar lebih, atau 300 dolar jika memilih versi murahnya. Belum lagi harga memori triple channel DDR3 yang harganya minimal sekitar 70 dolar AS. Pengguna harus mengeluarkan investasi yang serius jika ingin memiliki platform komputer terhebat itu. Mengingat kondisi ekonomi yang sedang tidak kondusif seperti ini, langkah memilih sistem Core i7 tampaknya kurang bijak.

Kehadiran prosesor Phenom II dari AMD  juga cukup memperburuk keadaan bagi sistem Core i7. Meskipun dari sisi kinerja secara head to head, Phenom II tidak mampu bersaing dengan performa Core i7, tetapi tawaran kinerja overclock yang menarik baik seri kelas atas ataupun kelas mainstream, harga yang lebih terjangkau, serta biaya upgrade dari sistem lawas yang rendah, membuat adopsi prosesor Core i7 makin sulit.

Krisis ekonomi global yang menjadi salah satu pemicu lambatnya penjualan platform Core i7 juga berlaku di Indonesia. Sejak Core i7 dan sistem pendukungnya hadir di sekitar ajang Indocomtech 2008, 12-16 November silam, peminat Core i7 memang banyak. Akan tetapi ramainya peminat tidak sejalan dengan penjualan.

Di pasar, dari informasi yang VIVAnews dapatkan dari distributor prosesor Intel di Indonesia, platform Core 2 Quad masih lebih diminati. Tidak seperti penjualan prosesor-prosesor terbaru Intel sebelumnya yang grafiknya terus meningkat, penjualan Core i7 dan komponen pendukungnya relatif stagnan.

Sebagai gambaran, dari total keseluruhan penjualan jajaran prosesor desktop Intel (Core i7, Core 2 Quad, Core 2 Duo, Pentium, dan Celeron), Core i7 hanya memiliki pangsa pasar 1-1,5 persen saja. Pentium Dual Core, prosesor turunan dari Core 2 Duo masih memegang pangsa pasar terbesar yakni hampir 45 persen, Core 2 Duo sendiri sekitar 35 persen, sementara Core 2 Quad sedikit di bawah 20 persen.

Untuk Celeron, meski pasarnya masih ada, tetapi pengguna yang membeli secara retail tidak banyak yang meminati prosesor tersebut. Di segmen ekonomis, perhatian pengguna mulai beralih ke platform prosesor Atom yang juga sudah tersedia secara retail. Bila prosesor Atom diikutsertakan dalam keseluruhan penjualan, persentasenya mencapai sekitar 3 persen.

Kembali ke Core i7, prosesor yang paling banyak diminati pengguna adalah seri 920. Tidak mengherankan mengingat harganya yang “hanya” sekitar 300 dolar AS, dibandingkan seri kelas atasnya yang mencapai angka 1100 dolar AS. Dari informasi yang VIVAnews terima, di tanah air, seri Core i7 yang sudah resmi beredar baru seri 920 dan 965.

Menurut data Astrindo Senayasa, salah satu distributor prosesor Intel di Indonesia, dalam 3 bulan pertama penjualan, prosesor kelas ekstrim dari Intel tercatat mencapai kurang lebih 10 unit. Sedangkan versi ekonomisnya sudah laku sebanyak sekitar 200 unit.

Melihat sepinya penjualan, tampaknya Intel perlu bergegas menghadirkan solusi ekonomis bagi platform terbarunya, misalnya dengan seri Core i5. Kalau tidak begitu, kemungkinan nasibnya tidak akan jauh berbeda dengan nasib prosesor ekstrim yang pernah dimiliki AMD yakni Athlon FX seri 7. Ketika itu AMD membangun platform sistem yang berbeda dengan seri mainstreamnya. Seri 7 dari Athlon FX menggunakan platform soket F atau soket 1207, sementara di saat yang sama, prosesor desktop AMD lainnya menggunakan soket AM2.

Sayangnya, pengguna juga tidak bisa begitu saja menggunakan platform Core i5 dan melakukan upgrade prosesor di kemudian hari ke Core i7 karena perbedaan arsitektur si prosesor, khususnya pada soket yang digunakan. Walah.

Sumber : Vivanews.com

Nvidia Harus Bergabung dengan AMD

Rahul Sood
Di awal 2008, Intel mengisyaratkan bahwa chip Nvidia menjadi semakin usang. Komentar itu meresahkan investor dan membuat geram Jen-Hsun Huang, Chief Executive Officer Nvidia. Ketika sejumlah analis mengonfirmasikan hal ini pada Huang dalam sebuah pertemuan di musim panas 2008, Huang membantah hal tersebut.

Tapi, tidak lama kemudian, bantahan tersebut kembali dan menyerang Nvidia. Sama seperti AMD, Nvidia menghadapi banyak tantangan di tahun 2008, dan ekonomi membuat semua menjadi lebih parah bagi kedua perusahaan. Di saat Intel masih bisa bertahan menghadapi beberapa kuartal buruk lagi, AMD tidak bisa, dan Nvidia juga tidak ingin demikian. Artinya, Nvidia perlu menyingkirkan jauh-jauh bantahannya itu dan merenungkan kembali masa depannya.

AMD sedang dalam masalah pelik.

Saya tidak suka menyebutkannya, karena saya punya banyak teman yang bekerja di AMD, teman-teman baik dari masa lalu dan juga banyak juga yang sudah meninggalkan perusahaan itu karena satu dan lain hal. Kondisi ekonomi saat ini tentunya tidak membantu, tetapi saya sudah melihat beberapa orang terbaik di sana menerima pemutusan hubungan kerja karena faktor-faktor yang sebagian besar dari kita sudah prediksikan beberapa bulan lalu, dengan atau tanpa resesi sekalipun.

Perusahaan sangat membutuhkan uang tunai; kuartal lalu saja mereka mengalami kerugian 600 juta dolar AS, dan apapun yang dilakukan manajemen AMD tampaknya tidak bisa memperbaiki kondisi perusahaan. Beberapa analis menyebutkan bahwa sebagian dari masalah yang dialami AMD adalah karena mereka terus mengambil langkah yang sama, dan mungkin sudah waktunya mereka mengambil model bisnis yang berbeda sama sekali.

Apakah AMD membutuhkan pemimpin baru? Saya tidak menyebutkan bahwa Dirk Meyer adalah CEO yang tidak bagus, tetapi setujukah Anda bahwa merupakan hal yang masuk akal bagi AMD untuk mencari cara yang sama sekali baru? Kalau Anda sepakat, coba pahami pendapat saya; menurut saya, satu-satunya cara bagi perusahaan agar dapat berjalan di arah yang sama sekali baru adalah dengan menyewa orang dari luar. AMD membutuhkan pemimpin yang memiliki pemikiran baru, dan yang lebih penting, bisa membawa ATI dan AMD mampu berkolaborasi dan memiliki visi jangka panjang yang meyakinkan.

Salahkah jika saya berasumsi bahwa banyak hal yang salah di dalam AMD jika melihat kondisi saat ini? Perusahaan telah kehilangan banyak orang-orang hebat dan terus melakukan pemangkasan, moral para pekerja pun menurun. Percaya atau tidak, harapan tetap ada, tetapi sudah waktunya untuk berduka cita dan segera melakukan perubahan.

Jen-Hsun Huang adalah pemimpin yang kuat dalam berbagai hal. Memang, Nvidia telah melakukan sejumlah kesalahan dalam beberapa waktu terakhir, tetapi perusahaan selalu berhasil mengatasinya dan kembali ke puncak. Sampai di awal 2008, Nvidia merupakan perusahaan kesayangan Wall Street, dan sejarah tentu dapat berulang secara sendirinya. Biasanya, waktu dapat menyembuhkan seluruh luka, dan angka-angka yang bagus di Wall Street bisa menyembuhkan apapun.

Jen-Hsun adalah pribadi yang agresif, sangat cerdas, dan ia membawa semangat untuk Nvidia. Seperti Steve Jobs, ia siap melakukan apapun untuk perusahaannya. Tipe kepemimpian totaliter Jen-Hsun berhasil karena ia memiliki kredibilitas yang tinggi dan dapat memberikan inspirasi pada orang banyak, dan ketika ia sedang gembira tentang sesuatu hal, semangatnya sangat menular.

Baik AMD dan Nvidia sedang mengalami tantangan besar di bulan-bulan dan tahun-tahun ke depan. Intel hanya bisa menjadi lebih kuat, lebih efisien, dan lebih hebat. Catat kata-kata saya, langkah Intel untuk terjun ke bidang grafis bukanlah untuk membuat produk yang tanggung. Perusahaan akan terjun secara serius dan tidak ada rencana untuk meluncurkan kartu grafis jelek. Sederhananya, Intel ingin memiliki kontrol atas seluruh ekosistem dan meningkatkan keuntungan. Nvidia sudah melakukan yang terbaik untuk mendorong visual computing, tetapi itu hanyalah teknologi yang bisa dibuat oleh produsen grafis manapun di suatu saat.

Menurut saya, AMD yang tidak memiliki pabrik dan Nvidia perlu bergabung. Tidak akan ada masalah anti-trust di sini karena Intel masih memiliki sebagian besar pangsa basar karena grafis terintegrasi pada chipsetnya. Jen-Hsun perlu memimpin perusahaan itu, menata ulang seluruh perusahaan dan membuatnya jadi efisien. Mereka perlu mempromosikan seluruh top engineer dan producer serta mengoptimalkan middle management.

Perusahaan baru itu nantinya perlu bergabung dalam satu merek. Mengonsolidasikan semuanya di bawah Nvidia dan mulai membangun strategi yang paling gilam agresif dan komprehensif. Mereka perlu mengontrol seluruh ekosistemnya dan jika mereka melakukannya dengan cara yang benar, mereka akan lebih kompetitif dibanding Intel. Dalam kasus ini, satu tambah satu bisa sama dengan lima.

Ini menurut saya merupakan cara terbaik bagi AMD dan Nvidia untuk bertahan dan berhasil dalam jangka panjang. Ini juga akan membuat kompetisi dengan Intel dan mendorong inovasi ke level yang baru. Inilah seni berperang yang sesungguhnya. Mungkin pendapat saya akan memicu masalah, tetapi saya lelah melihat perusahaan terus menerus membenturkan diri ke dinding yang sama berulang-ulang dan berharap akan memecahkan sesuatu.
* Rahul Sood adalah pencipta komputer high end VoodooPC di tahun 1991 yang kemudian diakuisisi HP tahun 2006. Ia menuliskan opininya di edisi terakhir CPU Magazine.
• VIVAnews

Masa Depan TI Sudah Pasti Ada di Awan

Darric Hor, General Manager
PT Symantec Indonesia (symantec.com)
Dunia TI berubah cepat. Tidaklah lagi layak secara ekonomis jika semua sistem dan aplikasi dipertahankan terisiolasi di dalam pusat data. Agar dapat bertahan, organisasi harus mampu dengan cepat mendeploy teknologi-teknologi baru, meningkatkan layanan dan menanggapi ancaman.

Dan karena anggaran menciut saat kebutuhan akan sumberdaya – khususnya  storage – meningkat, perusahaan perlu beralih ke virtualisasi dan komputasi awan agar bisa menyediakan layanan-layanan on-demand yang scalable.

Dari 3.700 organisasi di 35 negara yang disurvey oleh Symantec terkait bagaimana mereka menanggapi tekanan tersebut, terungkap bahwa makin banyak usaha yang menggunakan virtualisasi dan teknologi cloud dengan tujuan mengurangi biaya dan meningkatkan kecekatan TI.

“Namun, kendati mereka bergerak ke arah implementasi cloud yang lebih lengkap, tetap ada hambatan,” kata Darric Hor, General Manager, Indonesia & Philippines Symantec di Jakarta, 28 November 2011.

Hambatan tersebut, Darric menyebutkan, perlu diatasi sebelum mereka bisa memetik manfaat penuh dari penghematan biaya dan peningkatan efisiensi yang ditawarkan komputasi awan.

Dari survey juga terungkap beberapa tren saat transisi tersebut berlangsung. Tren tersebut antara lain adalah realisasi virtualisasi yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Organisasi juga memberi tekanan lebih pada aplikasi business-critical.

Dari sisi fokus, organisasi tetap membuat layanan sebagai perhatian utama mereka meski para eksekutif bisnis dan TI di organisasi tersebut tidak memiliki pandangan yang sama. Selain itu, banyak pula organisasi yang memanfaatkan para penyedia pihak ketiga untuk mengimplementasikan virtualisasi dan cloud computing di organisasi mereka.

“Jika ditarik kesimpulan, perusahaan saat ini sangat mementingkan untuk membuat keputusan yang tepat saat akan mengimplementasikan virtualisasi dan teknologi cloud computing,” kata Darric. “Mereka menentukan sasaran berdasarkan manfaat yang mereka harapkan dicapai. Sayangnya, pada beberapa kasus, mereka masih berharap terlalu banyak,” ucapnya.

Walaupun ada tantangan-tantangan tersebut, Darrick menyebutkan, bisnis tetap bisa dengan mantap bergerak ke implementasi virtualisasi dan teknologi cloud yang lebih maksimal.

“Jika mereka meneruskan implementasi cloud, lanskap dari TI menjadi lebih efisien dan efektif-biaya, dan perusahaan mulai menyadari manfaat-manfaat yang timbul dengan memiliki sumberdaya yang skalabel, on-demand dalam melayani para kliennya secara lebih baik,” ucap Darrick.

sumber : vivanews.com

Korea Siapkan Robot Penjaga Penjara

Robot penjaga penjara di Korea Selatan 
Lengahnya para sipir penjaga merupakan alasan klasik kaburnya narapidana dari penjara. Tak hanya itu, para sipir juga kerap disalahkan atas terungkapnya fasilitas mewah yang didapat 'tahanan khusus'.

Entah, apakah itu bisa diatasi jika penjara dijaga oleh robot. Tapi di Korea Selatan, terdapat rencana untuk menjadikan robot untuk menjaga penjara.

Seperti dikutip dari laman Gizmodo, penjara di kota Pohang, Korea Selatan, akan dijaga oleh robot mulai Maret tahun depan. Jika uji coba ini sukses, maka penjagaan yang akan dilakukan oleh robot ini akan terus dikembangkan.

Adapun robot yang disponsori Kementerian Kehakiman ini didesain untuk melakukan patroli. Robot setinggi 1,5 meter yang dilengkapi roda dan monitor ini akan berkeliling mengawasi keadaan di dalam sel.
 
ika robot ini mendeteksi pergerakan mendadak, atau aktivitas manusia yang janggal, seperti kekerasan, maka robot ini akan memberikan peringatan dan memberi tahu penjaga manusia.

"Tidak seperti CCTV yang hanya memonitor sel-sel melalui layar, robot ini diprogram untuk menganalisa berbagai aktivitas di dalam penjara dan mengidentifikasi perilaku tak normal," kata Profesor Lee Baik-chul dari Universitas Kyonggi, seperti dilansir dari Wall Street Journal.

Proyek robot senilai 1 miliar won (US$ 863 ribu) ini juga menjadi sarana komunikasi narapidana dengan penjaga, dalam keadaan darurat.

Proyek ini pun disambut baik petugas penjara. Dengan demikian tugas mereka akan sedikit lebih ringan, apalagi saat shift malam.

Namun, belum diketahui tanggapan narapidana mengenai robot penjaga ini. "Itu juga menjadi perhatian," kata Lee.

"Tapi robot bukan terminator. Tugas mereka bukan menyakiti para tahanan. Mereka akan membantu para narapidana, terutama jika ada narapidana yang dalam ancaman, atau menderita sakit serius, bantuan akan segera diberikan," jelas Lee.

Robot ini pun dijanjikan akan "manusiawi dan bersahabat", terutama kepada mereka yang ada di balik bui.  
 
 
sumber : VIVAnews
 

tentang saya

Foto saya
samarinda, kalimantan timur, Indonesia

Followers